Menulis itu menyenangkan. Tak terkira bahagianya, apabila kita tau
tulisan kita bisa menghibur orang lain. Atau bahkan bisa memberi
inspirasi, atau motivasi bagi orang lain. Membantu seseorang tak hanya
berupa materi bukan? Kita bisa berbagi. Baik berbagi ilmu, semangat,
impian, apa saja. Hanya dengan tulisan.
Menulis itu
menenangkan. Sejak aku masih kelas 3 SD, aku sudah terbiasa menulis
diary. Semua kejadian lucu, atau peristiwa penting dalam hidupku,
terekam dalam lembar diary. Saat aku senang, marah, jengkel, sedih, atau
apapun, menulis adalah caraku untuk meluapkannya. Kebiasaan itu
terbawa sampai saat ini. Bagiku menulis untuk menuangkan suasana hati
itu menenangkan, lewat menulis aku bisa lebih bebas sampai kemudian
hatiku netral kembali. Kadang memang aku curhat pada seseorang, namun
tak mungkin aku selalu mengandalkannya, aku tidak ingin membuat
siapapun bosan atau malah terbebani oleh kisahku. Maka, aku tetap
menulis, walau sekarang aku sudah beralih pada blog, atau hanya menulis
di selembar kertas.
Menulis itu satu bentuk pencarian
eksistensi diri. Saat menulis adalah saat dimana seorang penulis
menumpahkan keegoisannya. Ia bebas menuliskan apa yang ia mau,
mengekspresikan apa yang ia rasa. Oleh karenanya, Aku menjadikan
tulisanku sebagai salah satu media evaluasi, menilai sendiri
bagaimanakah jati diriku, bagaimanakah pribadiku, bagaimanakah emosiku.
Karena eksistensi diriku, keegoisanku, kepribadianku, tercermin dari
tulisanku.
Menulis itu belajar. Aku belajar untuk selalu
berfikir kreatif, karena dengan kreatif aku akan bisa menulis lebih
bagus lagi. Aku belajar sabar, karena saat menulis aku harus bersabar
menyunting tulisanku, memperbaiki kesalahannya sedikit demi sedikit
sampai menjadi sebuah tulisan yang layak.
Menulis itu
hebat. Bukan perkara mudah bagi seorang penulis untuk merangkai kata
demi kata hingga menjadi sebuah karya. Rasanya kagum pada diriku
sendiri, ketika aku berhasil menyelesaikan satu karya lagi, satu lagi
dan lagi. Apalagi jika tulisanku komunikatif, bermanfaat untuk orang
lain.
Menulis itu seni. Tulisan itu karya seni. Siapapun
yang menghargai sebuah tulisan, ia pasti menyadari seni-nya, indah-nya
sebuah tulisan. Saat aku menulis, aku bisa memberikan suatu suasana,
atau suatu rasa, juga menyelipkan suatu pesan di dalam tulisanku. Di
situlah seni-nya, dan itu tidak mudah, tapi menyenangkan. Bagiku, seni
menulis, (ataupun seni lainnya), berpengaruh besar dalam mengolah rasa
dan melatih kepekaan, termasuk kepekaanku terhadap lingkungan di
sekitarku.
Semua yang aku sebutkan di atas, adalah
opiniku, semua yang aku rasakan mengenai hobiku, menulis. Masih banyak
sejujurnya, karena memang banyak rasa yang timbul ketika aku sedang
menulis. Dan aku yakin setiap penulis punya rasa masing-masing. Apapun
opininya, yang lebih penting adalah semangat untuk selalu berkarya,
karya yang lebih baik, dan bisa bermanfaat bagi orang lain.
Memang,
aku hanyalah seorang penulis amatir. Karyaku hanya seputar jurnal
harian, dan aku baru saja memberanikan diri untuk menulis cerita pendek
fiksi, itupun berasal dari kehidupanku, atau kehidupan di sekitarku.
Apa yang ada di benakku itulah yang aku tulis. Aku belum percaya diri
untuk menulis puisi atau mencoba karya tulis lainnya. Tulisanku masih
berantakan dan kualitasnya jauh dari bagus. Tapi aku berusaha, terus
berusaha untuk tetap menulis. Bila Tuhan berkehendak, dan aku terus
mencoba, ide dan semangat untuk menulis akan selalu datang. Dan lagi,
aku bersyukur aku cinta membaca. Apapun kubaca, novel tebal, majalah fashion, sampai billboard
di tengah jalan. Dengan membaca aku bisa memperkaya ideku, dan
menambah kecintaanku pada tulisan. Dan aku percaya, semakin banyak aku
membaca, akan semakin baik tulisanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar